Jumat, 01 Oktober 2010

Deskripsi Esai, Panduan Menulis, Tips dan Trik, dan Langkah Membuat Esai



Apakah Esai itu?

Sebuah esai adalah sebuah komposisi prosa singkat yang mengekspresikan opini penulis tentang subyek tertentu. Sebuah esai dasar dibagi menjadi tiga bagian: pendahuluan yang berisi latar belakang informasi yang mengidentifikasi subyek bahasan dan pengantar tentang subyek; tubuh esai yang menyajikan seluruh informasi tentang subyek; dan terakhir adalah konklusi yang memberikan kesimpulan dengan menyebutkan kembali ide pokok, ringkasan dari tubuh esai, atau menambahkan beberapa observasi tentang subyek.

Apa yang membedakan esai dan bukan esai? Untuk menjawab pertanyaan ini dapat dilakukan dengan merujuk pendapat-pendapat atau rumusan-rumusan yang telah ada, tetapi pendapat-pendapat atau rumusan-rumusan yang telah ada sering kali masih tidak lengkap dan kadang bertolak belakang sehingga masih mengandung kekurangan juga. Misal mengenai ukuran esai, ada yang menyatakan bebas, sedang, dan dapat dibaca sekali duduk; mengenai isi esai, ada yang menyatakan berupa analisis, penafsiran dan uraian (sastra, budaya, filsafat, ilmu); dan demikian juga mengenai gaya dan metode esai ada yang menyatakan bebas dan ada yang menyatakan teratur.

Penjelasan mengenai esai dapat lebih "aman dan mudah dimengerti" jika ditempuh dengan cara meminjam pembagian model penalaran ala Edward de Bono. Menurut De Bono, penalaran dapat dibagi menjadi dua model. Pertama, model penalaran vertikal (memusatkan perhatian dan mengesampingkan sesuatu yang tidak relevan) dan kedua model penalaran lateral (membukakan perhatian dan menerima semua kemungkinan dan pengaruh).

Dari pembagian model penalaran ini, esai cenderung lebih mengamalkan penalaran lateral karena esai cenderung tidak analitis dan acak, melainkan dapat melompat-lompat dan provokatif. Sebab, esai menurut makna asal katanya adalah sebuah upaya atau percobaan yang tidak harus menjawab suatu persoalan secara final, tetapi lebih ingin merangsang. Menurut Francis Bacon, esai lebih sebagai butir garam pembangkit selera ketimbang sebuah makanan yang mengenyangkan.



Sejarah Esai

Esai mulai dikenal pada tahun 1500-an dimana seorang filsuf Perancis, Montaigne, menulis sebuah buku yang mencantumkan beberapa anekdot dan observasinya. Buku pertamanya ini diterbitkan pada tahun 1580 yang berjudul Essais yang berarti attempts atau usaha. Montaigne menulis beberapa cerita dalam buku ini dan menyatakan bahwa bukunya diterbitkan berdasarkan pendapat pribadinya. Esai ini, berdasarkan pengakuan Montaigne, bertujuan mengekspresikan pandangannya tentang kehidupan.

Lalu bagaimana pengertian esai menurut Montaigne? Montaigne menuliskan sikap dan pandangannya mengenai esai melalui deskripsi-deskripsinya yang tersirat, sahaja, rendah hati tetapi jernih dalam sebuah kata pengantar bukunya: "Pembaca, ini sebuah buku yang jujur. Anda diperingatkan semenjak awal bahwa dalam buku ini telah saya tetapkan suatu tujuan yang bersifat kekeluargaan dan pribadi. Tidak terpikir oleh saya bahwa buku ini harus bermanfaat untuk anda atau harus memuliakan diri saya. Maksud itu berada di luar kemampuan saya. Buku ini saya persembahkan kepada para kerabat dan handai taulan agar dapat mereka manfaatkan secara pribadi sehingga ketika saya tidak lagi berada di tengah-tengah mereka (suatu hal yang pasti segera mereka alami), dapatlah mereka temukan di dalamnya beberapa sifat dari kebiasaan dan rasa humor saya, dan mudah-mudahan, dengan cara itu, pengetahuan yang telah mereka peroleh tentang diri saya tetap awet dan selalu hidup" (dari "To The Reader").

Kemudian, pada tahun 1600-an, Sir Francis Bacon menjadi Esais Inggris pertama. Bukunya berjudul Essay. Bentuk, panjang, kejelasan, dan ritme kalimat dari esai ini menjadi standar bagi esais-esais sesudahnya. Ada beberapa esai yang formal, dan ada beberapa esai lain yang bersifat informal. Bentuk esai informal lebih mudah ditulis karena lebih bersifat personal, jenaka, dengan bentuk yang bergaya, struktur yang tidak terlalu formal, dan bertutur. Bentuk esai formal lebih sering dipergunakan oleh para pelajar, mahasiswa dan peneliti untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Formal esai dibedakan dari tujuannya yang lebih serius, berbobot, logis dan lebih panjang.

Di Indonesia bentuk esai dipopulerkan oleh HB Jassin melalui tinjauan-tinjauannya mengenai karya-karya sastra Indonesia yang kemudian dibukukan (sebanyak empat jilid) dengan judul Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei (1985), tapi Jassin tidak bisa menerangjelaskan rumusan esai.


Tipe Esai

Esai Deskriptif
Esai deskriptif biasanya bertujuan menciptakan kesan tentang seseorang, tempat, atau benda. Bentuk esai ini mencakup rincian nyata untuk membawa pembaca pada visualisasi dari sebuah subyek. Rincian pendukung disajikan dalam urutan tertentu (kiri ke kanan, atas ke bawah, dekat ke jauh, arah jarum jam, dll). Pola pergerakan ini mencerminkan urutan rincian yang dirasakan melalui penginderaan.

Esai ekspositori
Esai ini menjelaskan subyek ke pembaca. Biasanya dilengkapi dengan penjelasan tentang proses, membandingkan dua hal, identifikasi hubungan sebab-akibat, menjelaskan dengan contoh, membagi dan mengklasifikasikan, atau mendefinisikan. Urutan penjelasannya sangat bervariasi, tergantung dari tipe esai ekspositori yang dibuat. Esai proses akan menyajikan urutan yang bersifat kronologis (berdasarkan waktu); esai yang membandingkan akan menjelaskan dengan contoh-contoh; esai perbandingan atau klasifikasi akan menggunakan urutan kepentingan (terpenting sampai yang tak penting, atau sebaliknya); esai sebab-akibat mungkin mengidentifikasi suatu sebab dan meramalkan akibat, atau sebaliknya, mulai dengan akibat dan mencari sebabnya.

Esai naratif
Menggambarkan suatu ide dengan cara bertutur. Kejadian yang diceritakan biasanya disajikan sesuai urutan waktu. Esai persuasif bersuaha mengubah perilaku pembaca atau memotivasi pembaca untuk ikut serta dalam suatu aksi/tindakan. Esai ini dapat menyatakan suatu emosi atau tampak emosional. Rincian pendukung biasanya disajikan berdasarkan urutan kepentingannya.

Esai dokumentatif
Memberikan informasi berdasarkan suatu penelitian di bawah suatu institusi atau otoritas tertentu. Esai ini mengikuti panduan dari MLA, APA, atau panduan Turabian.



Panduan Dasar Menulis Esai

Untuk membuat sebuah esai yang berkualitas, diperlukan kemampuan dasar menulis dan latihan yang terus menerus. Berikut ini panduan dasar dalam menulis sebuah esai.


Struktur Sebuah Esai

Pada dasarnya, sebuah esai terbagi minimum dalam lima paragraf:

1. Paragraf Pertama

Dalam paragraf ini penulis memperkenalkan topik yang akan dikemukakan, berikut tesisnya. Tesis ini harus dikemukakan dalam kalimat yang singkat dan jelas, sedapat mungkin pada kalimat pertama. Selanjutnya pembaca diperkenalkan pada tiga paragraf berikutnya yang mengembangkan tesis tersebut dalam beberapa sub topik.

2. Paragraf Kedua sampai kelima

Ketiga paragraf ini disebut tubuh dari sebuah esai yang memiliki struktur yang sama. Kalimat pendukung tesis dan argumen-argumennya dituliskan sebagai analisa dengan melihat relevansi dan relasinya dengan masing-masing sub topik.

3. Paragraf Kelima (terakhir)

Paragraf kelima merupakan paragraf kesimpulan. Tuliskan kembali tesis dan sub topik yang telah dibahas dalam paragraf kedua sampai kelima sebagai sebuah sintesis untuk meyakinkan pembaca




Langkah-langkah membuat Esai


1. Tentukan topik
2. Buatlah outline atau garis besar ide-ide anda
3. Tuliskan tesis anda dalam kalimat yang singkat dan jelas
4. Tuliskan tubuh tesis anda:

* Mulailah dengan poin-poin penting
* kemudian buatlah beberapa sub topik
* Kembangkan sub topik yang telah anda buat


5. Buatlah paragraf pertama (pendahuluan)
6. Tuliskan kesimpulan
7. Berikan sentuhan terakhir



Memilih Topik

Bila topik telah ditentukan, anda mungkin tidak lagi memiliki kebebasan untuk memilih. Namun demikian, bukan berarti anda siap untuk menuju langkah berikutnya.

Pikirkan terlebih dahulu tipe naskah yang akan anda tulis. Apakah berupa tinjauan umum, atau analisis topik secara khusus? Jika hanya merupakan tinjauan umum, anda dapat langsung menuju ke langkah berikutnya. Tapi bila anda ingin melakukan analisis khusus, topik anda harus benar-benar spesifik. Jika topik masih terlalu umum, anda dapat mempersempit topik anda. Sebagai contoh, bila topik tentang "Indonesia" adalah satu topik yang masih sangat umum. Jika tujuan anda menulis sebuah gambaran umum (overview), maka topik ini sudah tepat. Namun bila anda ingin membuat analisis singkat, anda dapat mempersempit topik ini menjadi "Kekayaan Budaya Indonesia" atau "Situasi Politik di Indonesia". Setelah anda yakin akan apa yang anda tulis, anda bisa melanjutkan ke langkah berikutnya.

Bila topik belum ditentukan, maka tugas anda jauh lebih berat. Di sisi lain, sebenarnya anda memiliki kebebasan memilih topik yang anda sukai, sehingga biasanya membuat esai anda jauh lebih kuat dan berkarakter.

* Tentukan Tujuan
Tentukan terlebih dahulu tujuan esai yang akan anda tulis. Apakah untuk meyakinkan orang agar mempercayai apa yang anda percayai? Menjelaskan bagaimana melakukan hal-hal tertentu? Mendidik pembaca tentang seseorang, ide, tempat atau sesuatu? Apapun topik yang anda pilih, harus sesuai dengan tujuannya.

* Tuliskan Minat Anda
Jika anda telah menetapkan tujuan esai anda, tuliskan beberapa subyek yang menarik minat anda. Semakin banyak subyek yang anda tulis, akan semakin baik. Jika anda memiliki masalah dalam menemukan subyek yang anda minati, coba lihat di sekeliling anda. Adakah hal-hal yang menarik di sekitar anda? Pikirkan hidup anda? Apa yang anda lakukan? Mungkin ada beberapa yang menarik untuk dijadikan topik. Jangan mengevaluasi subyek-subyek tersebut, tuliskan saja segala sesuatu yang terlintas di kepala.

* Evaluasi Potensial Topik
Jika telah ada bebearpa topik yang pantas, pertimbangkan masing-masing topik tersebut. Jika tujuannya mendidik, anda harus mengerti benar tentang topik yang dimaksud. Jika tujuannya meyakinkan, maka topik tersebut harus benar-benar menggairahkan. Yang paling penting, berapa banyak ide-ide yang anda miliki untuk topik yang anda pilih.




Sebelum anda meneruskan ke langkah berikutnya, lihatlah lagi bentuk naskah yang anda tulis. Sama halnya dengan kasus dimana topik anda telah ditentukan, anda juga perlu memikirkan bentuk naskah yang anda tulis.


Membuat Outline

Tujuan dari pembuatan outline adalah meletakkan ide-ide tentang topik anda dalam naskah dalam sebuah format yang terorganisir.

1. Mulailah dengang menulis topik anda di bagian atas
2. Tuliskan angka romawi I, II, III di sebelah kiri halaman tersebut, dengan jarak yang cukup lebar diantaranya
3. Tuliskan garis besar ide anda tentang topik yang anda maksud:
* Jika anda mencoba meyakinkan, berikan argumentasi terbaik
* Jika anda menjelaskan satu proses, tuliskan langkah-langkahnya sehingga dapat dipahami pembaca
* Jika anda mencoba menginformasikan sesuatu, jelaskan kategori utama dari informasi tersebut
4. Pada masing-masing romawi, tuliskan A, B, dan C menurun di sis kiri halaman tersebut. Tuliskan fakta atau informasi yang mendukung ide utama




Menuliskan Tesis

Suatu pernyataan tesis mencerminkan isi esai dan poin penting yang akan disampaikan oleh pengarangnya. Anda telah menentukan topik dari esai anda, sekarang anda harus melihat kembali outline yang telah anda buat, dan memutuskan poin penting apa yang akan anda buat. Pernyataan tesis anda terdiri dari dua bagian:

* Bagian pertama menyatakan topik. Contoh: Budaya Indonesia, Korupsi di Indonesia
* Bagian kedua menyatakan poin-poin dari esai anda. Contoh: memiliki kekayaan yang luar biasa, memerlukan waktu yang panjang untuk memberantasnya, dst.




Menuliskan Tubuh Esai

Bagian ini merupakan bagian paling menyenangkan dari penulisan sebuah esai. Anda dapat menjelaskan, menggambarkan dan memberikan argumentasi dengan lengkap untuk topik yang telah anda pilih. Masing-masing ide penting yang anda tuliskan pada outline akan menjadi satu paragraf dari tubuh tesis anda.

Masing-masing paragraf memiliki struktur yang serupa:

1. Mulailah dengan menulis ide besar anda dalam bentuk kalimat. Misalkan ide anda adalah: "Pemberantasan korupsi di Indonesia", anda dapat menuliskan: "Pemberantasan korupsi di Indonesia memerlukan kesabaran besar dan waktu yang lama".
2. Kemudian tuliskan masing-masing poin pendukung ide tersebut, namun sisakan empat sampai lima baris.
3. Pada masing-masing poin, tuliskan perluasan dari poin tersebut. Elaborasi ini dapat berupa deskripsi atau penjelasan atau diskusi.
4. Bila perlu, anda dapat menggunakan kalimat kesimpulan pada masing-masing paragraf.



Setelah menuliskan tubuh tesis, anda hanya tinggal menuliskan dua paragraf: pendahuluan dan kesimpulan.


Menulis Paragraf Pertama

1. Mulailah dengan menarik perhatian pembaca.
* Memulai dengan suatu informasi nyata dan terpercaya. Informasi ini tidak perlu benar-benar baru untuk pembaca anda, namun bisa menjadi ilustrasi untuk poin yang anda buat.
* Memulai dengan suatu anekdot, yaitu suatu cerita yang menggambarkan poin yang anda maksud. Berhati-hatilah dalam membuat anekdot. Meski anekdot ini efektif untuk membangun ketertarikan pembaca, anda harus menggunakannya dengan tepat dan hati-hati.
* Menggunakan dialog dalam dua atau tiga kalimat antara beberapa pembicara untuk menyampaikan poin anda.
2. Tambahkan satu atau dua kalimat yang akan membawa pembaca pada pernyataan tesis anda.
3. Tutup paragraf anda dengan pernyataan tesis anda.




Menuliskan Kesimpulan

Kesimpulan merupakan rangkuman dari poin-poin yang telah anda kemukakan dan memberikan perspektif akhir anda kepada pembaca. Tuliskan dalam tiga atau empat kalimat (namun jangan menulis ulang sama persis seperti dalam tubuh tesis di atas) yang menggambarkan pendapat dan perasaan anda tentang topik yang dibahas. Anda dapat menggunakan anekdot untuk menutup esai anda.


Memberikah Sentuhan Akhir

1. Teliti urutan paragraf Mana yang paling kuat? Letakkan paragraf terkuat pada urutan pertama, dan paragraf terlemah di tengah. Namun, urutan tersebut harus masuk akal. Jika naskah anda menjelaskan suatu proses, anda harus bertahan pada urutan yang anda buat.
2. Teliti format penulisan. Telitilah format penulisan seperti margin, spasi, nama, tanggal, dan sebagainya
3. Teliti tulisan. Anda dapat merevisi hasil tulisan anda, memperkuat poin yang lemah. Baca dan baca kembali naskah anda.
4. Apakah masuk akal? Tinggalkan dulu naskah anda beberapa jam, kemudian baca kembali. Apakah masih masuk akal?
5. Apakah kalimat satu dengan yang lain mengalir dengan halus dan lancar? Bila tidak, tambahkan bebearpa kata dan frase untuk menghubungkannya. Atau tambahkan satu kalimat yang berkaitan dengan kalimat sebelumnya.
6. Teliti kembali penulisan dan tata bahasa anda.



Source : http://www.asmakmalaikat.com
Dikirim oleh Admin
Tanggal 2008-10-30
Jam 20:19:08

Bagaimanakah Teknik Menulis Untuk Media Massa


Semua orang bisa menulis
Kecuali yang sama sekali tidak beroleh pendidikan formal atau nonformal. Masalahnya, di mana dan untuk apa dia menulis?

Media massa (koran, majalah, tabloid) menyediakan begitu banyak ruang bagi para (calon) penulis umum, di luar rubrik yang biasa diisi para wartawan media bersangkutan. Setidaknya ada dua rubrik yang bisa dimanfaatkan: opini dan surat pembaca. Seiring perkembangan teknologi, tulisan melalui pesan pendek (SMS) pun kini bisa dimuat di surat kabar.

Tapi, menulis di media massa itu banyak aturan. Pasti. Aturan pertama, biasanya media hanya menerima tulisan yang sesuai dengan visi, misi, dan karakter media mereka. Koran politik akan sangat terbuka dengan tulisan-tulisan politik, meski tetap menerima jenis tulisan lain untuk rubrik tertentu seperti cerpen, puisi, tema-tema pendidikan dan humaniora, dan lain-lain.

Kedua, penggunaan bahasa yang sopan (kecuali di media-media "esek-esek", yang tidak akan saya bahas di sini). Sedikit penguasaan bahasa beserta ejaan yang disempurnakan mau-tak mau menjadi prasyarat bagi calon penulis.

Ketiga, tema yang spesifik dan aktual. Koran harian mengharamkan tema-tema yang basi. Tema besar yang menyedot perhatian banyak orang memang akan bertahan lama, tapi ketika ada peristiwa lain yang lebih "besar", topik yang lama tadi masuk kategori basi.

Keempat, ide tulisan harus asli (orisinal), bukan jiplakan. Inilah yang dianggap paling sulit dilakukan oleh para penulis, karena menurut mereka untuk menghasilkan ide yang orisinal setidaknya dibutuhkan "kepakaran" di bidang tertentu yang menjadi objek tulisannya.

Tapi, benarkah demikian? Belum tentu.

Seperti sudah disebutkan, setiap orang bisa menulis. Dan untuk bisa menulis di media massa ada tip dan trik yang harus dilakukan.

LATIHAN. Itu kata sakti jika kita ingin memiliki kemampuan dalam segala hal. Tanpa latihan, apa yang ingin kita lakukan tidak akan mencapai "kesempurnaan". Pula dalam menulis. Kita sering mendengar ucapan: "satu-satunya cara menjadi penulis adalah "menulis".

Latihan menulis tidak perlu terlalu dipikirkan bagaimana caranya. Mulailah dari buku harian. Ya buku harian. Atau, jika Anda blog literate, media blog merupakan jalan paling mudah dewasa ini untuk berlatih menulis. Dengan adanya forum komentar, tulisan kita bisa dinilai oleh semua orang. "Ah, saya takut ntar dikritik."

Jangan takut kritik. Anggap saja konsultasi gratis. Tokh, tujuan kita memang belajar.

Buku harian, yang sifatnya personal, jangan diremehkan. Buku Pergolakan Pemikiran Islam oleh Ahmad Wahib juga berangkat dari buku harian. Belum lagi Catatan Harian Seorang Demonstran oleh Soe Hok Gie.

Latihan menulis secara personal pada dasarnya merupakan usaha mengasah kepekaan kita. Kepekaan adalah modal penting seorang penulis. Kepekaan menuntun kita untuk berbuat, beropini, menentang, dan merespons segala yang terjadi di sekitar kita. Kepekaan juga mengantarkan kita pada ide-ide.

Jadi, mulailah latihan dari sekarang.

Mengasah kepekaan

PADA bahasan sebelumnya, kita mulai berlatih menulis secara personal sebagai cara mengasah kepekaan. Sebenarnya ada banyak cara lain untuk mengasah kepekaan.

Membaca, tentu saja. Membaca buku, baik fiksi maupun nonfiksi. Artikel opini di media massa, cerpen, atau novel. Selain untuk mempertajam intuisi, membaca juga merupakan jalan untuk menambah wawasan dan referensi. Siapa tahu berguna untuk tulisan kita nantinya.

Nonton berita di tivi, acara-acara lainnya, bahkan termasuk infotainmen juga bisa menjadi lahan untuk mengasah kepekaan kita terhadap suatu hal. Pengamat media massa seperti Veven Sp Wardhana mesti nonton satu-dua sinetron (meski tidak harus mengikuti sampai tuntas) untuk bisa membuat tulisan kritis tentang hal tersebut.

Ngobrol, diskusi juga bisa mengasah pisau analisis kita sekaligus memperluas cakrawala dan jaringan sosial. Jangan lupakan blog juga.

Dengan adanya masukan-masukan dari bahan bacaan, tontonan, obrolan, maka akan timbul ide, sangsi, debat, pertanyaan-pertanyaan, yang bisa mengarah untuk munculnya inspirasi dan ide.

17 pantangan dalam menulis opini ke Kompas

Wartawan Kompas Pepih Nugraha di blognya "membocorkan" 17 penyebab sebuah artikel ditolak oleh Desk Opini Kompas. Mereka adalah:

1. Topik atau tema kurang aktual
2. Argumen dan pandangan bukan hal baru
3. Cara penyajian berkepanjangan
4. Cakupan terlalu mikro atau lokal
5. Pengungkapan dan redaksional kurang mendukung
6. Konteks kurang jelas
7. Bahasa terlalu ilmiah/akademis, kurang populer
8. Uraian Terlalu sumir
9. Gaya tulisan pidato/makalah/kuliah
10. Sumber kutipan kurang jelas
11. Terlalu banyak kutipan
12. Diskusi kurang berimbang
13. Alur uraian tidak runut
14. Uraian tidak membuka pencerahan baru
15. Uraian ditujukan kepada orang
16. Uraian terlalu datar
17. Alinea pengetikan panjang-panjang


Sepuluh Cara Menemukan Kembali Jurnalisme

Howard Owens dari GateHouse Media punya sepuluh cara bagi wartawan "menemukan kembali" jurnalisme. Berikut ini terjemahan dari artikelnya yang berjudul "Ten things journalists can do to reinvent journalism".

* Berhenti menulis untuk halaman depan. Terlalu banyak wartawan dan saya dulu juga begini sebagai reporter berpikir bahwa halaman depan adalah satu-satunya pembuktian kuat mereka sebagai wartawan. Pada web, tentu saja, tidak ada halaman depan hanya stempel waktu. Lebih baik menulis cerita yang benar ketimbang cemas di mana editor akan memuat cerita kita di edisi cetak.

* Berhenti memperlakukan jurnalisme seperti sebuah persaingan. Memang menyenangkan mengalahkan media lain, tapi itu tidak boleh jadi satu-satunya alasan mendapatkan cerita. Menginginkan setiap cerita supaya terbit lebih dulu dari pesaing akan berujung pada kesalahan, baik dalam pelaporan maupun proses berpikir bagaimana menangani cerita itu. Nilai ekonomi dari mengalahkan pesaing pada hari-hari ini bisa dibilang nol. Nilai sebagai sumber arus informasi yang terpercaya dalam jangka waktu lama adalah signifikan. Ini bukan sebuah poin yang bertentangan, kalau dipikir-pikir.

* Berhenti mengirimkan cerita anda ke perlombaan penulisan/pelaporan. Ini hanya akan mendorong anda menulis demi wartawan lain, bukan demi pembaca anda.

* Simak pembaca anda lebih baik lagi. Hargai setiap pujian kecil yang tulus. Jika itu berupa sebuah surat atau kartu pos, tempelkan di papan buletin anda; jika itu berupa email, cetaklah dan tempel juga di situ. Jadikan pujian tulus pembaca sebagai tujuan sehari-hari. Berhenti memandang sebelah mata kritikan yang mengeluh tentang setiap hal yang dilakukan koran anda.

* Masukkan lebih banyak orang dalam cerita anda dan lebih sedikit gelar. Saya akan mengarang sebuah aturan khusus ini, tetapi untuk setiap judul, anda harus mengutip dua orang yang tak punya gelar. Jadi, jika anda meliput dewan kota dan mengutip walikota dan anggota dewan, anda perlu juga memasukkan empat orang tanpa gelar. Orang biasa yang nyata. Berikan tekanan pada dampak yang dirasakan orang biasa, bukan hanya apa yang dikatakan orang tentang sebuah isu atau kejadian. Coba lihat berapa banyak cerita tentang dewan kota yang anda bisa tulis dalam sebulan tanpa sekalipun menyebut pejabat terpilih/yang ditunjuk.

* Jangan meliput proses. Liputlah cerita sebenarnya. Cerita sebenarnya memuat orang biasa, dengan hal-hal nyata yang hendak dikatakan, tentang hal nyata yang mempengaruhi kehidupan mereka.

* Kuasai subjek yang anda liput. Anda harus lebih paham liputan anda dari semua sumber. Ini akan menolong anda menghindari "konon katanya". Membuat anda lebih mampu menulis cerita yang dalam, dan memberi anda keyakinan untuk menambah perspektif. Anda juga akan bisa menggali lebih banyak cerita yang lebih baik lagi.

* Lupakan anggapan-palsu objektivitas. Sebaliknya, berusahalah adil, jujur, tak berpihak, dan akurat.

* Jadilah akurat. Selalu. Menjadi akurat bukanlah sekedar mendapatkan fakta yang benar. Dia membimbing pendekatan anda sepenuhnya terhadap sebuah cerita. Sebagian dari menjadi akurat artinya anda tidak pernah membesar-besarkan. Tidak pernah. Anda takkan pernah menggoreng konflik hanya supaya cerita halaman satu yang lebih keren. Anda takkan pernah memotong kutipan supaya jadi lebih dramatis, atau mengutak-atiknya demi menekankan sebuah hal.

* Liputlah masyarakat anda layaknya kampung halaman anda dan semoga saja iya libatkan diri anda dalam masyarakat dan pedulikan orang-orangnya. Meski kenyataan bisa saja mengganggu, dan anda bisa saja harus pindah suatu hari nanti, setidaknya ketika anda sedang meliput sekelompok masyarakat, bangunlah pemikiran bahwa anda akan tinggal selamanya meliput kota ini, atau topik ini.



Written By : Firman Firdaus
Dikirim oleh Admin
Tanggal 2008-08-22
Jam 10:01:18

LANGKAH-LANGKAH MENJADI PENULIS

Artikel & Opini Universitas Bangka Belitung



UNTUK pandai menulis syaratnya harus bisa menulis. Untuk bisa menulis sebaiknya anda suka membaca. Ada sejumlah strategi praktis untuk terjun menjadi penulis, meskipun saya tidak taat menggunakannya. Pengarang (author) atau penulis (writer)? Hampir sama memang. Namun "penulis" terasa lebih luas jangkauannya. Karena pengarang umumnya menulis sesuatu yang fiktif, sedang penulis melakukan keduanya: fakta (sebagai wartawan, penulis biografi) dan fiksi (sebagai novelis, penyair). Di bawah ini, secara ringkas, adalah langkah-langkahnya.

Pertama : Impian Kata impian mungkin berbeda arti dengan mimpi. Impian seolah sengaja diciptakan, bukan sekadar pemberian. Dan sejumlah orang sukses ternyata awalnya memiliki impian, atau dengan kata lain cita-cita. Sementara itu, impian kadang-kadang muskil dan sulit terjangkau. Dengan demikian, gunakanlah segala perangkat yang memungkinkan untuk mencapai impian yang "tak mungkin" tadi. Tapi, impian menjadi pengarang (besar) bukanlah sesuatu yang tak mungkin.

Kedua : Niat Niat adalah modal utama yang tak memerlukan biaya. Cukup dalam hati atau jika ingin lebih percaya dan yakin, ucapkan sekadar untuk didengar telinga sendiri: "Saya berniat menulis!"

Ketiga : Kemauan. Banyak orang memiliki niat, tetapi hingga akhir hayat tetap tinggal sebagai niat. Kendaraan untuk membawa niat menjadi kenyataan adalah kemauan. Bahkan, menurut banyak orang, kemauan sanggup mengalahkan kemampuan. Artinya, banyak orang yang mampu berbuat sesuatu tapi karena tidak memiliki kemauan, potensinya itu sia-sia belaka. Jadi, segera upayakan agar sang niat didorong oleh sang kemauan.

Keempat : Gagasan Walaupun gagasan penting, sebaiknya kita tidak terlalu bergantung kepadanya, dalam arti: ditunggu seperti kita mengharap wahyu. Gagasan bisa datang tiba-tiba seperti lampu menyala dalam pikiran kita. Itu mungkin disebut ilham. Tetapi, ketika kita melihat suatu peristiwa atau merasakan perasaan tertentu, entah gembira atau sedih, atau saat jatuh cinta; gagasan muncul dengan serta-merta. Namun demikian, gagasan kadang-kadang bisa dibentuk atau diciptakan. Bagaimana caranya? Berpikirlah! Jangan khawatir, itu nanti akan terpelajari dengan sendirinya melalui proses waktu.

Kelima : Tindakan Inilah yang disebut action. Untuk melakukan tindakan, setiap orang memang berbeda-beda caranya. Tetapi, menurut saya, jangan tergantung pada alat. Jika di depan anda sudah ada komputer, itu fasilitas terbaik saat ini. Ketik saja segera. Jika sedang berada di sekolah, tentu memiliki kertas dan pena. Lakukan awal tulisan anda di situ. Bukankah gagasan itu tak boleh lama-lama dipendam agar tak menguap hilang? Jika ternyata di tangan anda hanya ada handphone: ah, apa boleh buat! Ketik di layar hp, seolah akan mengirim sms kepada teman, lalu simpan. Soal keterbatasan jumlah halaman itu perlu disiasati dengan, misalnya, tulis judulnya dulu. Atau temanya. Atau pokok pikiran yang hendak diurai menjadi sejumlah besar kalimat. Yang paling penting: ide itu tak hilang!

Keenam : Pengembangan Setelah tiba di tempat yang memadai (di rumah, di perpustakaan, di mana pun yang menurut anda nyaman), kembangkan gagasan yang sudah ditulis secara ringkas menjadi paragraf dan seterusnya. Kembangkan potongan-potongan pokok pikiran yang tadi dicatat. Jangan pikirkan jumlah halaman. Mau pendek atau panjang, yang penting cerita atau karangan itu menjadi utuh. Nah, dalam pengembangan ini memang diperlukan kemampuan berbahasa, detail peristiwa, setting (waktu maupun tempat), karakter tokoh, dan logika fiksi.

Ketujuh : Referensi Untuk memperkaya pengembangan, boleh jadi diperlukan referensi. Jika cerita sejarah, tentu wajib melihat catatan fakta. Jika ingin menampilkan tokoh dengan profesi tertentu, carilah pengetahuan tentang profesi itu. Sekadar untuk menghidupkan cerita, bayangkan karakter atau perilaku kawan-kawan di sekitar anda.

Kedelapan : Ending Ada banyak pengarang yang selalu menemui kesulitan saat menggarap ending. Kesulitan bukan tabu. Tapi harus dicari jalan keluar. Banyak pilihan tentunya: ending tertutup atau terbuka? Happy ending atau sad ending? Putuskan saja. Lambat-laun, dari satu ke cerita berikutnya, akan semakin terampil membuat akhir kisah.

Kesembilan : Umumkan Sebuah tulisan atau karangan tidak akan diakui sebagai sebuah karya jika hanya menghuni laci anda. Segera umumkan. Caranya banyak. Print dan berikan kepada kawan-kawan agar mereka bisa membaca. Kirim ke redaksi majalah dinding sebagai bentuk latihan publisitas. Kirim ke media massa agar mendapatkan penilai yang lebih baik. Atau, jika masih ingin menutup diri, buat blogger di dunia maya (internet). Para penggemar internet akan membaca karya anda tanpa harus tahu identitas anda sebenarnya. Bukankah sudah selesai?

Adrakadabra : dan kini anda telah menjadi penulis! Hal-hal berikutnya, yang menyangkut kualitas baik dan buruk, itu memerlukan proses pembelajaran. Bacalah banyak buku tentang cara menulis. Banyak pengarang senior menjadi tempat bertanya. Banyak pelatihan yang akan mengasah kepekaan anda terhadap ide cerita dan bahasa. Ikuti diskusi sastra agar wawasan semakin terbuka. Kalau teman kita bisa menjadi penulis, kenapa kita tidak? Insya Allah. Selamat menulis!

Metode membaca yang paling baik


Orang yang menjadikan membaca sebagai bagian dari hidupnya dan sebagai kegemaran yang tak terpisahkan adalah orang yang dalam waktu singkat mampu mengungguli orang lain dalam berpikir dan berinteraksi dengan kehidupan, bahkan dalam melihat orang lain.

pagi teman-teman, mudahan kalian hari ini semangat semua. dirimu gimana dex? Hancur hatiku. loh masalah cewek lagi? bukan, barusan aja nulis, eits..notebooknya pake acara nge-hank segala. belum di save lagi. hilang deh semua tulisannya, waa,,,,pengen nangis rasanya. sabar ya dex.

Yaudah, nonton film Chuck aja di AXN nih. Senang banget lihat detektif wanitanya, cakep. andai saja, punya pacar seperti itu? ngarep dapatnya. Sekarang yang jadi pertanyaan? apa yang harus gua tulis nih? masih bingung, lebih baik baca buku. Seorang blogger, harus suka membaca loh. seperti dexter ini? meskipun bodoh, tapi buku di meja kerjanya banyak sekali? beneran dah dibaca, ya dunk. dengan bangga mengatakan IYA.

Tahu nggak, dengan membaca kita bisa melihat dunia. Kata-kata guru SD yang sering dex dengar. Mungkin otak manusia adalah organ paling menakjubkan yang diketahui hingga sekarang. Memori menyimpan data di otak setelah menjalankannya melalui salah satu panca indera ke sentral memori. Beri waktu yang cukup pada diri kalian sendiri untuk memahami gambar beserta sejulah rinciannya ketika berkosentrasi.

Memang sih, nggak semua orang dapat menghapal dengan sempurna. macam dex ini, baca lalu lupa. tapi ada juga loh yang hanya sekali baca langsung ingat. kuat lemahnya memori dipengaruhi oleh sebab-sebab penciptaan sedari awal. Mungkin karena keturunan, atau karena kesehatan ibu ketika hamil : makanannya, obat yang ia minum atau gas yang ia hirup. Kuat tidaknya memori juga dipengaruhi oleh sebab-sebab tempat ia melakukan aktivitas berpikir, menghapal, mengingat dan latihan-latihan yang disebutkan sebelumnya. Lupa yang mana dex?

Sepertinya dex mulai serius membaca nih. Membaca punya andil besar untuk mendapatkan ilmu. bahkan membaca merupakan sarana klasik, dan kebanyakan manusia tidak mengetahui sarana selain itu. jika seseorang meningkatkan metode bacanya dan interaksinya dengan huruf, ia akan mendapatkan manfaat lebih banyak.

Dengan membaca rutin, kebiasaan membaca bagi kalian tidak saja merupakan sarana ilmu dan mengembara di alam raya–akan menjadi kenikmatan relaksasi, dan rekreasi yang tak tergantikan oleh siapapun.

Sekarang, dex akan memberi tahu beberapa informasi yang bisa didapatkan dari membaca, perhatikan hal-hal berikut ini.

Dalam satu menit, manusia dapat membaca 500 kata, bahkan ada yang bisa membaca 900 kata per menit. tetapi itu hal yang langka. 500 kata setara dengan dua halaman buku urutan sedang. ini artinya dalam waktu satu jam, manusia dapat membaca 120 halaman. jika halaman buku ukuran sedang mencapai 400 halaman, dibutuhkan waktu tiga jam dua puluh menit untuk membacanya.

Taruhlah misalnya, kamu membutuhkan empat jam untuk menyelesaikan bacaan. Bila kamu mengalokasikan waktu satu jam untuk membaca setiap harinya, berarti dalam empat hari kamu telah menamatkan satu buku berukuran sedang, dan dalam satu tahun kamu bisa menamatkan sekitar sembilan puluh buku.

Coba renungkan pengaruhnya pada dirimu jika dalam satu tahun menamatkan sembilan buku pilihan dari total sembilan puluh buku. Berapa banyak waktu berharga kita yang hilang percuma dalam permainan dan sesuatu yang tiada guna, sedangkan kita tak tahu besarnya kerugian kita di sewaktu mentari kehidupan telah terbenam?

Metode membaca yang paling baik ialah dengan diam dan teliti, dalam suasana tenang dan jiwa tentram, tidak dilakukan langsung sehabis makan kenyang, tidak ketika merasa sangat lapar, baik dan tepat pencahayaan, ventilasi, dan suhu udaranya, serta duduk dengan nyaman dan pas ( tidak tinggi dan rendah). Sebaiknya pembaca memegang pena untuk menggarisbawahi kalimat-kalimat penting, menulis beberapa judul, membuat nomor, dan menulis sejumlah gagasan. selain itu, membaca dilakukan pada waktu yang tepat setelah tidur cukup.

Akhirnya selesa juga film Chuck. Keren abis. sayang jadi melo, Chuck harus melihat wanita gebetannya harus ciuman dengan pria lain. Loh-loh ko bahas film. Ini akhirnya gimana? Sudah selesai juga nulisnya tao

Tu kan, lebih enak membaca. Siapa diantara kalian yang belum baca hari ini? Nggak usah lama, satu jam saja sudah cukup. Budayakan membaca yuk!

“aku mengasihimu dengan hati, senyum, tangis dan segenap hidupku”.

MENGAPA HARUS MENELITI ?



Selama dua hari kemarin, telah dilaksanakan kegiatan Workshop Penelitian Dosen Universitas Bangka Belitung. Terlepas dari segala kekurangan yang ada, patut kita syukuri bahwa kegiatan dapat dilaksanakan dengan baik dan lancar. Menilik dari kegiatan itu sendiri yang bertemakan penelitian, maka penelitian dalam artian yang sebenarnya adalah suatu hal yang sangat penting, terutama dengan status kita sebagai dosen. Dengan kata lain, penelitian merupakan salah satu sendi atau ruh dalam suatu institusi bernama perguruan tinggi. Dapat kita bayangkan jika tubuh tanpa ruh, maka dengan sendirinya tubuh kita akan mati.

Penelitian, dari kata dasar teliti dan meneliti sebagai kata kerjanya, diartikan sebagai proses penelitian yang dilandasi oleh pemikiran ilmiah (didasari konsep ilmiah, teori, ataupun paradigma ilmiah) untuk menemukan kebenaran ilmiah (menemukan konsep maupun teori baru) (Prof. DR. Daniel Saputra). Atau mungkin lebih sederhananya, penelitian merupakan kerangka kerja yang digunakan untuk menemukan, mencari dan mengeksplorasi suatu fenomena secara ilmiah. Namun, yang pasti bahwa obejek penelitian apapun itu adalah menarik dan memang pantas untuk diteliti.

Setiap orang bisa saja meneliti. Namun tidak semua orang mampu meneliti dengan baik dan benar (valid and reliable). Bahkan, bagi seseorang yang telah memiliki pengalaman penelitian yang banyak masih sering mengalami kesalahan. Bisa dibayangkan bagi kita yang masih kurang atau bahkan tidak memiliki pengalaman penelitian sama sekali. Tentunya kesalahan-kesalahan dalam membuat kerangka berpikir ilmiah untuk ditorehkan dalam penelitian merupakan hal yang wajar.

Penelitian bukan sekedar menuliskan kalimat positif tentang apa yang menjadi masalah dan menarik untuk diteliti. Kemudian membuat kerangka teoritik yang banyak dan menjabarkannya dalam suatu metode tertentu. Namun lebih penting dari suatu penelitian adalah bagaimana kita mampu merangkai penelitian dalam suatu logika yang berkesinambungan, mulai dari perencanaan, pembahasan topik, penguasaan masalah hingga ketepatan dalam menentukan metode apa yang digunakan. Ini merupakan langkah awal untuk kemudian menjadikan penelitian kita nantinya mampu dipertanggungjawabkan dan bermanfaat.

Problematika besar yang dihadapi peneliti-peneliti muda kita saat ini adalah kesulitan dalam mengkerangkai logika penelitian dengan benar. Seringkali permasalahan yang diteliti, dikaji dengan teori dan metodologi yang tidak tepat. Belum lagi mengenai penguasaannya terhadap masalah yang hendak diteliti. Sehingga, yang timbul kemudian adalah kecenderungan untuk membuat rencana penelitian seadanya.

Kecenderungan ini ditambah lagi dengan dengan kurangnya ketertarikan pada bidang penelitian maka, praktis penelitian tidak menjadi prioritas. Padahal, bagi seorang akademisi, penelitian adalah fardhu áin (kewajiban yang harus dilakukan). Tanpa pernah melakukan penelitian, bukan hanya jenjang akademiknya yang tidak akan bergerak naik, namun dalam keadaan yang buruk, kompetensinya dalam dunia akademik bisa diragukan kompetensinya. Jika demikian, apakah seorang dosen layak dikatakan seorang dosen jika suatu fenomena yang menarik tidak membuatnya tertarik untuk mengkaji lebih lanjut.


Penelitian Sebagai Momentum Refleksi

Coba bayangkan anda sedang berdiri di depan cermin, maka anda akan melihat bayangan anda apa adanya. Penelitian sebetulnya merupakan sebuah momentum untuk mengetahui seberapa besarkah kompetensi kita dalam suatu displin ilmu tertentu dan seberapa besar penguasaaan kita pada ilmu tersebut. Dengan melakukan penelitian, maka kita akan tahu dimana letak kelebihan dan kekurangan kita.

Seorang peneliti yang sedang meneliti berarti dirinya sedang merefleksikan dan mengekspresikan keingintahuannya terhadap sesuatu. Timbul kepuasaan ketika seorang peneliti dapat menyelesaikan penelitiannya dengan baik. Terlebih penelitiannya tersebut dapat langsung bermanfaat bagi orang banyak. Selain itu, ketika sedang meneliti, berarti seorang peneliti sedang merefleksikan hasratnya dan segenap pengetahuan yang dimilikinya agar masalah yang ditelitinya dapat dterpecahkan.

Karena itu, seorang peneliti yang baik, cara berpikirnya selalu skeptis" artinya selalu menanyakan dan memikirkan bukti ilmiah yang ada, analitis" selalu berpikir runut dan sistematis serta terstruktur, dan kritis. Ketika ada fenomena dan menunjukkan terdapat permasalahan yang mesti dicari pemecahannya, maka seorang peneliti dituntut untuk mengembangkan logika berpikirnya secara holistik dan ilmiah.

Ketentuan lain yang mesti dimiliki oleh seorang peneliti adalah fokusnya terhadap pemecahan masalah. Artinya, seorang peneliti betul-betul menguasai apa yang menjadi permasalahan dan apa yang perlu untuk dilakukan guna mencari pemecahannya (kompeten). Selain itu, sifat yang perlu dimiliki oleh seorang peneliti adalah kejujurannya dalam mengungkapkan fakta-fakta yang ada dan dalam mengkaji masalah yang sedang ditelitinya.

Lebih jauh, seorang peneliti juga harus objektif dalam melaksanakan penelitian. Suatu kebenaran yang dicari dari sebuah penelitian akan didapat dari seberapa objektifkah kita dalam melakukan penelitian. Berpikir terbuka terhadap segala kemungkinan yang muncul dalam penelitian merupakan ketentuan lain yang mesti ada dalam diri peneliti. Dengan demikian, peneliti nantinya mampu menelaah dan memberikan penyelesaian jawaban terbaik.

Seorang peneliti juga adalah seorang pembelajar. Artinya, dirinya tidak hanya puas dengan pengetahuan yang dimiliki sehingga tidak ada keinginan untuk menambah dan meningkatkan pengetahuan. Dinamika penelitian selalu berkembang. Karena itu, seorang peneliti harus selalu belajar dan belajar agar pengetahuan dan komptensinya tetap terjaga.***

Tag Keyword : Peneliti Penelitian Workshop Dosen Akademik Akademisi Universitas Bangka Belitung
Dikirim oleh Idil Akbar, S.I.P
Tanggal 2008-03-05
Jam 11:41:00

MENINGKATKAN BUDAYA MEMBACA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT KAMPUS

Membaca
Apa yang terlintas dalam benak kita ketika mendengar kata itu? Sebagian ada yang berfikir membaca adalah kegiatan yang membosankan. Ada juga yang mengatakan bahwa membaca hanya menyita waktu, tenaga dan pikiran. Bahkan ada yang berasumsi bahwa membaca bukanlah kegiatan yang bermanfaat karena tidak menghasilkan materi. Padahal, kalau kita mau berpikir kritis, kita akan menemukan begitu banyak manfaat dari kegiatan membaca. Dengan membaca suatu bacaan, seseorang dapat menerima informasi, memperdalam pengetahuan, dan meningkatkan kecerdasan. Pemahaman terhadap kehidupan pun akan semakin tajam karena membaca dapat membuka cakrawala untuk berpikir kritis dan sistematis. Hanya dengan melihat dan memahami isi yang tertulis di dalam buku pengetahuan maupun pelajaran, membaca bisa menjadi kegiatan sederhana yang membutuhkan modal sedikit, tapi menuai begitu banyak keuntungan.

Kebiasaan membaca adalah ketrampilan yang diperoleh setelah seseorang dilahirkan, bukan ketrampilan bawaan. Oleh karena itu kebiasaan membaca dapat dipupuk, dibina dan dikembangkan. Bagi negara – negara berkembang aktivitas membaca pada umumnya adalah untuk memperoleh manfaat langsung. Untuk tujuan akademik membaca adalah untuk memenuhi tuntutan kurikulum sekolah atau Perguruan Tinggi. Buku sebagai media transformasi dan penyebarluasan ilmu dapat menembus batas – batas geografis suatu negara, sehingga ilmu pengetahuan dapat dikomunikasikan dan digunakan dengan cepat di berbagai belahan dunia. Semakin banyak membaca buku, semakin bertambah wawasan kita terhadap permasalahan di dunia. Karena itulah buku disebut sebagai jendela dunia.

Manfaat Perpustakaan

Salah satu unsur penunjang yang paling penting dalam dunia pendidikan tinggi adalah keberadaan sebuah perpustakaan. Adanya sebuah perpustakaan sebagai penyedia fasilitas yang dibutuhkan terutama untuk memenuhi kebutuhan civitas akademik ( Dosen, Staf dan Mahasiswa ) akan sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kampus itu sendiri. Didalam penulisan artikel ini, penulis ingin mengkhususkan pembahasan kepada salah satu bagian dari masyarakat kampus yaitu mahasiswa.

Seperti kita ketahui bersama, salah satu tujuan utama penyelenggaraan kegiatan belajar di Perguruan Tinggi adalah untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, bukan sekedar memenuhi jumlah minimal SKS yang dibebankan lantas mendapatkan ijazah dan gelar akademik atau profesi. Seseorang akan dikatakan berkualitas apabila ia mempunyai wawasan luas dan mendalam serta tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan khususnya pada bidang yang digelutinya.
Seorang mahasiswa yang ingin mencapai sukses dalam studinya harus mempunyai strategi khusus dalam memanfaatkan waktu untuk belajar semaksimal mungkin dan senantiasa memprediksi lima atau enam tahun kedepan, pada saat mana ia meninggalkan Perguruan Tinggi dan mengaplikasikan ilmunya dilapangan. Perlu diingat bahwa, belajar mandiri (self education) adalah ciri khas belajar di Perguruan Tinggi, ini berarti bahwa inisiatif untuk belajar aktif dituntut lebih banyak pada mahasiswa, salah satunya dengan memanfaatkan waktu yang tersisa di perpustakaan.

Manfaat perpustakaan sangat penting untuk mengasah kemampuan analisis dan pendalam materi perkuliahan. Perpustakaan memiliki bahan pustaka yang beraneka ragam jenisnya. Buku-buku sebanyak mungkin harus dibaca, baik buku yang dianjurkan dosen maupun buku lain yang tidak dianjurkan. Disarankan agar mahasiswa tidak membatasi diri hanya membaca buku yang dianjurkan dosen tetapi bacalah buku mengenai fenomena yang sama sebanyak mungkin, karena pandangan dari banyak pakar dengan membaca berarti memperluas wawasan kita mengenai objek studi yang kita pelajari.

Kurangi Tradisi Lisan, Tingkatkan Tradisi membaca

Di era globalisasi dengan kemajuan teknologi, kebanyakan orang cenderung mendengar dan berbicara ketimbang melihat diikuti membaca. Di lembaga – lembaga pendidikan pun tradisi lisan mendominasi proses belajar mengajar sehingga minat baca dan ingin memiliki buku-buku ilmu pengetahuan bukanlah prioritas utama atau sama sekali tidak difungsikan secara efisien. Kenyataan menunjukkan adanya dua alternativ pilihan yakni ketika orang dihadapkan dengan buku-buku ilmu pengetahuan dan tayangan film menarik, orang akan cenderung melelahkan indra penglihatan (mata) untuk menonton film berjam – jam daripada membaca buku-buku ilmu pengetahuan.

Membaca buku-buku ilmu pengetahuan disertai dengan menulis sangat berarti karena mengurangi beban memori ingatan kita. Ilmu pengetahuan hanya dapat diciptakan oleh mereka yang sama sekali terserap dengan aspirasi menuju kebenaran dan pemahaman. Dalam masyarakat pembaca, selalu terkandung pemikiran bahwa dikala orang telah membaca dan menguasai isi ilmu pengetahuan, orang sering sudah menganggap telah menjadi ilmuwan atau peneliti yang hebat. Salah satu etika moral seorang ilmuwan adalah memiliki kesadaran bahwa dia baru mengetahui sebagian dari ilmu itu. Menjadi ilmuwan bukanlah menjadi orang serba tahu, tetapi menjadi orang yang dituntut untuk belajar secara terus – menerus dengan jalan banyak membaca buku-buku ilmu pengetahuan. Svami Vivekanda seorang tokoh ilmuwan terkenal mengatakan ilmu pengetahuan dan agama akan bertemu dan berjabat tangan, puisi dan filsafat akan menjadi kawan. Apabila kita dapat mewujudkanya, kita dapat yakin bahwa ia akan terjadi selama – lamanya dan bagi semua orang.

Kurangilah tradisi lisan, mendengar dengan membaca dan menulis, tukarkan pembelian barang-barang yang tak memberi input bermakna dengan membeli buku-buku ilmu pengetahuan, luangkanlah waktu sejenak dengan membaca di perpustakaan karena masa depan kita ditentukan masa hari ini dan masa hari ini ditentukan masa yang lampau. Kesemuanya diharapkan dapat mengaktualisasikan makna saraswati dengan arif dan bijaksana sehingga dapat mendatangkan dampak positif ke arah kemajuan. Oleh karena itu, jadikanlah budaya membaca bagian dari kehidupan kita yang tak akan terpisahkan.*
Mengatasi Masalah-Masalah dalam Membaca Cepat
Kategori: Tips

Metode membaca cepat memberi banyak keuntungan bagi setiap orang. Dengan membaca cepat kita bisa mengetahui seluruh isi buku dalam waktu yang singkat. Hal ini sangat menguntungkan bagi kita yang memerlukan banyak informasi, namun tidak memiliki waktu yang banyak untuk membaca.

Untuk bisa membaca cepat, ada teknik-teknik khusus yang harus dikuasai. Memang tidak semua orang akan langsung mahir untuk membaca cepat. Keterampilan ini membutuhkan latihan yang mungkin bisa sampai berulang-ulang agar seseorang dapat menguasai teknik-teknik yang tepat dalam membaca cepat. Latihan-latihan ini dipandang penting untuk dilakukan karena biasanya seseorang yang baru pertama kali belajar membaca cepat akan menemui beberapa masalah yang bisa menjadi penghambat dalam membaca cepat.

Kebiasaan-kebiasaan yang dimiliki seseorang dalam membaca pun secara tidak sadar bisa menjadi penghambat untuk bisa membaca dengan cepat. Kebiasaan-kebiasaan yang biasanya sudah dimiliki selama bertahun-tahun ini di antaranya:

1. vokalisasi atau bergumam ketika membaca;

2. membaca dengan menggerakkan bibir namun tidak bersuara (komat-kamit);

3. kepala yang bergerak searah dengan arah tulisan yang dibaca;

4. jari-jari tangan yang selalu menunjuk tulisan yang dibaca;

5. gerakan mata yang selalu kembali ke kata-kata sebelumnya atau mengulang membaca kalimat dari depan;

6. membaca di dalam hati.

Kebiasaan-kebiasaan ini menjadi penghambat karena kecepatan membaca, melakukan gerakan, dan bersuara tidaklah sama. Melakukan suatu gerakan maupun bersuara pada waktu membaca membutuhkan waktu yang lebih banyak daripada membaca tulisan. Demikian pula dengan membaca dalam hati. Dengan membaca dalam hati, kita cenderung memerhatikan pelafalan, bukan makna yang terkandung dalam bacaan tersebut.

Untuk mengatasi masalah-masalah ini, usahakan untuk mencegah bibir, jari-jari tangan, dan kepala untuk bergerak pada saat membaca. Cara pencegahannya bisa dengan mengatupkan bibir, memasukkan tangan ke dalam saku atau memegangi kepala pada waktu membaca. Sedangkan untuk menghindari supaya tidak bersuara pada waktu membaca adalah dengan merasakan getaran suara di leher. Dengan meletakkan tangan di leher, akan diketahui apakah kita bersuara atau tidak. Membaca dalam hati memang tidak bisa dicegah, tetapi usahakan supaya tidak memerhatikan pelafalannya.

Selain masalah-masalah yang tersebut di atas, ada beberapa masalah lain yang berkaitan dengan materi bacaan yang kita baca, misalnya:


1. kepadatan dan beragamnya informasi yang disajikan oleh bacaan, misalnya seperti yang terdapat pada koran dan majalah;

2. bentuk kalimat yang formal, kaku, dan bahasa yang susah dipahami serta berbelit-belit, misalnya seperti dalam korespondensi, perundang-undangan;

3. baik buruknya tulisan, jika ditulis tangan;

4. format, susunan kalimat yang tidak baik dan jumlah halaman yang banyak, misalnya seperti dalam laporan-laporan;

5. faktor teknis, jika dalam e-mail dan teleteks;

6. terlalu panjang dan detail, misalnya dalam perincian dan laporan keuangan yang sebagian besar berupa angka.

Meskipun ada banyak masalah yang bisa menjadi penghambat dalam belajar membaca cepat, tidak berarti tidak ada jalan keluarnya. Berikut ini ada beberapa langkah yang bisa digunakan untuk membantu mengatasi masalah-masalah dalam membaca cepat.


1. Miliki kosakata yang luas

Jika saat ini Anda masih memiliki kosakata yang terbatas, ada cara-cara yang bisa ditempuh untuk mengatasinya, yaitu dengan menyiapkan catatan kata-kata baru yang belum Anda ketahui. Setelah itu, carilah artinya di dalam kamus. Perbendaharaan kata yang banyak sangat membantu dalam memahami suatu bacaan.

2. Sikap tubuh

Membaca cepat memang memerlukan konsentrasi yang tinggi. Tidak jarang pembaca justru berada dalam posisi tegang. Kondisi yang seperti ini justru menjadi penghambat. Untuk itu, ambilah posisi santai saat membaca.

3. Membaca sepintas lalu

Dengan membaca sepintas lalu, Anda bisa mengantisipasi hal-hal yang mungkin akan terjadi.

4. Konsentrasi

Konsentrasi yang penuh menghindarkan Anda dari melamun atau pikiran yang melayang-layang. Kesulitan dalam berkonsentrasi menunjukkan kecepatan membaca yang rendah. Untuk itu, usahakan agar selalu berkonsentrasi ketika membaca cepat.

5. Retensi/mengingat kembali informasi dari bacaaan

Mengingat kembali informasi yang baru saja Anda baca bisa dilakukan dengan beberapa cara, misalnya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan, diskusi, maupun menulis kembali informasi yang sudah diterima.

6. Tujuan dari membaca itu sendiri

Dengan menentukan tujuan dari membaca, Anda akan mengetahui apakah bacaan tersebut sesuai dengan kebutuhan Anda atau seperti yang Anda inginkan.

7. Motivasi

Motivasi yang jelas dalam membaca akan memengaruhi tingkat pemahaman bacaan. Jika Anda sudah memiliki motivasi yang jelas dalam membaca suatu bacaan, Anda akan lebih mudah menyerap informasi dalam bacaan tersebut. Untuk itu, tumbuhkanlah motivasi dalam membaca.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa membaca cepat sangat efektif dilakukan. Dengan membaca cepat kita bisa mengetahui seluruh isi buku tanpa harus menghabiskan waktu berjam-jam atau bahkan berhari-hari untuk bisa membaca seluruh isi buku. Kendala dalam membaca cepat sangat mungkin terjadi sehingga kita memerlukan waktu dan latihan-latihan supaya kita bisa menguasai teknik membaca cepat. Selain itu konsentrasi, motivasi dan tujuan membaca sangat mendukung untuk bisa mahir dalam membaca cepat.

Dirangkum oleh: Christiana Ratri Yuliani

PInk Rose & Glory

PInk Rose & Glory

Pink Rose & HardWork

Pink Rose & HardWork